Adenoma hipofisis (atau adenoma pituitari) adalah tumor jinak yang tumbuh di kelenjar hipofisis — kelenjar kecil seukuran kacang di dasar otak yang berperan mengatur banyak hormon penting dalam tubuh. Meski namanya terdengar menakutkan, sebagian besar adenoma hipofisis bersifat jinak dan bisa ditangani dengan baik.
Kelenjar hipofisis sering disebut "master gland" karena mengontrol banyak kelenjar hormon lain di tubuh. Ketika tumor tumbuh di sini, efeknya bisa berupa gangguan hormon dan/atau tekanan pada struktur sekitarnya.
Klasifikasi berdasarkan ukuran:
Klasifikasi berdasarkan fungsi hormon:
Gejala akibat tekanan tumor:
Gejala akibat gangguan hormon:
Penanganan adenoma hipofisis bergantung pada jenis, ukuran, dan gejala yang ditimbulkan:
Untuk prolaktinoma: Obat golongan dopamine agonist (cabergoline/bromocriptine) adalah terapi lini pertama — sangat efektif mengecilkan tumor dan menormalkan kadar prolaktin tanpa operasi pada sebagian besar kasus.
Operasi melalui hidung (transsphenoidal) — teknik minimal invasif yang menjadi standar. Direkomendasikan untuk: non-functioning adenoma yang menekan saraf penglihatan, GH-producing adenoma, dan ACTH-producing adenoma (Cushing).
Dipertimbangkan untuk sisa tumor pascaoperasi atau tumor yang kambuh. Stereotactic radiosurgery (Gamma Knife, CyberKnife) efektif untuk adenoma residual.
Untuk mikroadenoma non-functioning tanpa gejala — cukup dipantau dengan MRI dan pemeriksaan hormon berkala. Banyak yang stabil selama bertahun-tahun.
Kabar baiknya, adenoma hipofisis memiliki prognosis yang sangat baik:
Adenoma hipofisis sangat bisa dikelola dengan baik — yang terpenting adalah diagnosis tepat dan penanganan yang sesuai. 🌿
Bergabung dengan Komunitas Tumor Otak Indonesia →
Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau saran medis profesional dari dokter.
Referensi: Congress of Neurological Surgeons Guidelines on Functioning Pituitary Adenomas (2025); Mayo Clinic – Pituitary Tumors; WHO Classification of Tumours of the CNS, 5th Ed. (2021); Endocrine Society Clinical Practice Guidelines.